Skip to main content

Posts

Selepas Ramadan

Malam-malam kita tak lagi syahdu. Tak seperti malam lalu ketika kita menikmati lantunan ayat suci dalam tahajud dan tarawih. Larut dalam takarub dan munajat kepada ilahi.

Magrib kita tak lagi ditunggu. Tak seperti magrib-magrib yang lalu tatkala kita menanti kumandang merdu. Berzikir dan berdoa sampai tiba waktu berbuka.

Lidah kita tak lagi fasih, justru kebas dan kelu. Tak seperti kemarin ketika kita membaca firman-Nya tiada letih. Menghafal setiap ayat dengan gigih. Beradu khatam berulang kali.

Masjid dan surau kita tak lagi penuh. Tak seperti hari yang telah lalu saat tiba shalat lima waktu. Atau ketika kita berkumpul dalam kajian agama dan majelis-majelis ilmu.

Lantas, bagaimana kita hari ini? Adakah yang tersisa dalam diri kita selepas bulan keberkahan itu? Kebaikan apa yang membekas selepas Ramadan? Apakah amal-amal saleh kita lenyap seiring berganti bulan?

Bukankah azan yang bulan kemarin kita dengar adalah seruan yang sama hari ini?
Bukankah masjid yang bulan kemarin kita data…
Recent posts

Perjalanan Hidup

Perjalanan kita menjadi pantas diikhtiarkan sebab kita tahu betul kemana kita akan menelusuri arah. Meski dalam prosesnya akan banyak sekali onak dan duri. Namun, tapak kaki kita terlalu kuat untuk menjejak.

Perjalanan ini akan terus kita perjuangkan. Walau di persimpangan nanti kita mungkin berjumpa kawan yang perjalanannya terlihat lebih menyenangkan. Tak sedikitpun goyah apalagi kalah. Karena kita sadar setiap kita memiliki zona waktunya masing-masing.

Langkah-langkah kecil kita pantang surut, tak kenal henti. Kendati kita seolah merasa berjalan menuju tak berujung. Tapi kita percaya setiap yang memiliki awal akan berakhir.

Betapa perjalanan kita menyajikan hikmah yang begitu melimpah. Tentang bagaimana menjiwai aktivitas dengan sepenuh hati. Tentang belajar melepaskan sesuatu dari setiap pertemuan dan perpisahan. Tentang meninggalkan kenyamanan yang melenakan.

Perjalanan memang selayaknya membuat kita bertumbuh. Sebab ujian-ujian perjalanan yang berhasil kita lalui adalah anugerah…

Kontribusi untuk Bangsa dan Negara (Kini dan Nanti)

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
Siapa yang tidak tahu kutipan singkat masyhur di atas? Kalimat yang dilisankan oleh Presiden Soekarno tersebut rasanya tepat menggambarkan betapa kaum muda memiliki peran yang dahsyat dalam melakukan perubahan bagi negara dan dunia. Kita mengenal sosok-sosok muda yang mencuri perhatian dunia seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Anthony Tan. Di dalam negeri sebagian dari kita mungkin sering melihat atau mendengar nama Achmad Zaky, Iman Usman, dan M. Alfatih Timur di linimasa media sosial. Apa persamaan mereka?

Ternyata mereka yang disebutkan di atas memiliki kesamaan: berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Begitulah secara sederhana makna kontribusi yang saya pahami.

Potensi Pemuda Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2016 jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62 juta jiwa. Ini berarti 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan kaum m…

Pemuda Indonesia

Berbicara mengenai pemuda, maka kita tidak bisa melupakan peristiwa bersejarah pada tahun 1998. Kala itu pemuda-pemuda yang berstatus mahasiswa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari berakhirnya pemerintahan orde baru menuju orde reformasi. Lebih jauh lagi, peran pemuda dalam sejarah bangsa Indonesia kerap disebut di awali ketika peristiwa kebangkitan nasional pada 1908 yang ditandai dengan berdirinya organisasi Budi Oetomo. Meski lahirnya organisasi ini kabarnya masih bersifat kedaerahan, namun Budi Oetomo menjadi pionir bagi pergerakan pemuda khususnya mahasiswa sebagai suatu bangsa dalam perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia.

Selanjutnya, semangat nasionalisme dan persatuan yang mulai tersebar ke seluruh nusantara diwujudkan dalam sumpah pemuda pada 1928. Peristiwa ini menandai adanya semangat untuk bersatu dan berjuang bersama dari para pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia. Semangat persatuan dan perjuangan ini terus digelorakan oleh para pemuda hingga mencapai puncaknya…

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa …

Rindu

Ternyata perjumpaan tidak membunuh rindu. Ujungnya hanya terpangkas sedikit. Memecah dominansi apikal. Kemudian tunas lateralnya berkembang; bercabang-cabang. Rindu semakin rimbun.

Perjumpaan memang tidak melenyapkan rindu. Terus tumbuh meski diinjak, dibabat habis berkali-kali, atau didera kemarau panjang. Selama akarnya menghujam erat ke bumi, selama itu pula rindu bersemi. Rindu bertambah subur.

Perjumpaan benar-benar bukan obat rindu. Barangkali meredam nyeri, meredakan jerih, atau meredah perih. Namun perlahan justru menjadi pemicu; menjadi candu. Rindu kian mewabah.

Lantas, apa makna dalam sebuah temu?
Ujian rindu atau nikmat yang semu?

Apapun itu, selayaknya kita bersabar dan bersyukur setiap waktu. Sebab tanpa temu kita masih diizinkan terhubung dalam doa penuh haru, pada malam-malam syahdu.

Kebahagiaan Hidup

Dunia yang kita tinggali hari ini adalah dunia yang sarat kompetisi. Setiap orang yang kita temui ingin menjadi apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Walau kerap muncul perselisihan yang tak mampu dihindari. Namanya juga kompetisi.

Terlalu naif rasanya jika kita menganggap bahwa hidup ini hanya milik masing-masing individu. Nyatanya kita hidup dalam dunia yang saling terhubung satu sama lain. Dunia dimana kehidupan orang lain terkadang terkesan lebih indah dan bahagia.

Kita hari ini adalah kita yang terlalu sibuk melihat hidup orang lain. Sehingga tanpa sadar kita merasa tidak nyaman dan harus bersaing dengan kehidupan duniawi yang dijalani orang lain. Kebahagiaan orang lain menjadi tolok ukur kebahagiaan diri.

Padahal kebahagiaan bukan terletak pada nikmat. Ia tidak berada dalam eloknya paras, berlimpahnya harta, atau tingginya kedudukan.

Kebahagiaan lebih ditentukan oleh karakter dan sikap kita. Bersyukur kala mendapat nikmat. Bersabar ketika dilimpah musibah.

Bersyukur dan bersab…