Skip to main content

Just do it.



Bagi sebagian orang, memulai melakukan sesuatu merupakan hal yang tidak mudah. Berinisiatif untuk kemudian menjadi pelopor pembaharu kadang terasa berat.

Bagi sebagian yang lain, bertahan dan menjaga konsistensi lebih sulit daripada memulai. Berusaha menjaga ritme dan irama yang dibangun dengan keterbatasan mungkin butuh perjuangan yang tidak biasa.

Sebagian sisanya merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Enggan melangkah untuk berubah. Segan maju meski mampu. Hingga akhirnya mati sebab nihil kreasi, Hilang ditelan bumi dan tiada yang dapat diwarisi.

Begitulah kita.
Acap kali terlampau banyak berpikir dan menghitung untung rugi, Bimbang jika dihadapkan pada banyak pilihan. Padahal, tanpa kita sadari, tidak sedikit manusia yang tidak dapat memilih karena tidak ada opsi untuk dipilih. Bahkan ada yang harus rela menerima kenyataan; bergantung pada pilihan orang lain.

Memang begitulah kita.
Sebagai makhluk ekonomi, setiap saat transaksi terjadi. Mengharap kebutuhan pribadi terpenuhi tanpa merugikan diri sendiri. Tidak hanya ketika berinteraksi dengan makhluk bumi, pun dengan Allah, pemilik segala puji.

Kita bukanlah pemula, bukan pula penghujung. Kita adalah penyambung. Maka janganlah berhenti di tengah perjalanan ini, teruslah berjalan. Bahkan sesekali berlari adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan untuk mengejar impian kemenangan.
Lakukan selagi masih ada kesempatan.
Laksanakan semasa masih punya kekuatan.
Jalankan selama masih diberi kepercayaan.

Just do it.

Comments

Popular posts from this blog

Kontribusi untuk Bangsa dan Negara (Kini dan Nanti)

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
Siapa yang tidak tahu kutipan singkat masyhur di atas? Kalimat yang dilisankan oleh Presiden Soekarno tersebut rasanya tepat menggambarkan betapa kaum muda memiliki peran yang dahsyat dalam melakukan perubahan bagi negara dan dunia. Kita mengenal sosok-sosok muda yang mencuri perhatian dunia seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Anthony Tan. Di dalam negeri sebagian dari kita mungkin sering melihat atau mendengar nama Achmad Zaky, Iman Usman, dan M. Alfatih Timur di linimasa media sosial. Apa persamaan mereka?

Ternyata mereka yang disebutkan di atas memiliki kesamaan: berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Begitulah secara sederhana makna kontribusi yang saya pahami.

Potensi Pemuda Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2016 jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62 juta jiwa. Ini berarti 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan kaum m…

Yang Tak Tersorot

Kekaguman kita kerapkali tertuju pada mereka yang tampil di atas panggung. Mereka yang menawan di bawah sorotan lampu dengan segala kelebihan yang tampak. Elok parasnya, ramah tuturnya, merdu nyanyiannya, kuat pengaruhnya. Seakan-akan semesta memang tercipta untuknya.

Padahal jauh lebih banyak lagi orang-orang yang tak tersorot atau mungkin memang enggan disorot. Yang ikhlas bekerja untuk keluarganya. Yang selalu ada menjadi tempat cerita. Yang terus mendukung tanpa sedikitpun menghitung. Yang menuntaskan amanah meski amat lelah. Yang sibuk memberi dan berbagi tanpa pamrih, tanpa publikasi.

Orang-orang seperti itu tidak sedikit jumlahnya. Barangkali ada di sekitar kita. Kita saja yang sering melewatkannya. Atau terlambat menyadarinya.

Orang-orang seperti itu bukannya tidak peduli terhadap pribadi. Justru mereka sudah selesai dengan urusannya sendiri. Merasa cukup dengan nikmat yang Dia beri. Seraya menyerahkan hidup-mati pada Yang Maha Menguasai.

Orang-orang seperti itu tidak silau pa…

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa …