Skip to main content

Harapan dan Kenyataan

isigood.com
Malam itu terdengar bunyi notifikasi pesan masuk dari sebuah grup obrolan departemen.

"Nilai mutu penkom udah ada di KRS." Begitu isi pesannya.

Lalu berbagai respon dan tanggapan bermunculan dari anggota-anggota grup tersebut.

Esok paginya, kembali terdapat pesan masuk di grup itu.

"Metstat udah keluar nilainya. Monggo dicek." Seseorang mengabari. Baik sekali.

Sudah bisa ditebak, grup kembali ramai. Ada juga info lain. Tapi tampaknya tak mendapat perhatian para penghuni grup.

Sore menjelang. Notifikasi tanda pesan masuk semakin banyak.

"DTPSI udah ada di KRS."

Sejurus kemudian, "Nilai udah keluar semua. IP udah bisa diliat."

Beragam komentar terlontar dalam wujud tulisan. Sebagian bernada kesal dan kecewa. Beberapa berusaha menghibur sesama. Yang lain menanggapinya dengan canda. Sisanya hanya membaca, termasuk saya.

Setelah itu hanya ada obrolan-obrolan yang mengakrabkan suasana.

***

Kecewa merupakan hal yang biasa. Ia timbul jika keinginan tidak tercapai. Ketika harapan tak sejalan dengan kenyataan.

Kita merasa telah mengupayakan yang terbaik. Mencatat materi kuliah dari dosen dengan rapi, mengikuti praktikum tanpa pernah absen, mengumpulkan tugas tepat waktu, mengerjakan laporan hingga begadang atau bahkan sampai tidak tidur pun kita lakukan sebagai mahasiswa. Namun hasilnya ternyata tak sebaik yang kita inginkan.

Boleh jadi kita selama ini merasa sudah berusaha dan berdoa dengan maksimal untuk mendapatkan nilai yang sesuai ekspektasi. Tapi nyatanya jauh panggang dari api.

Kawan, kita menganggap telah berusaha dan berjuang semampu kita. Kewajiban terhadap Sang Pencipta pun telah kita penuhi. Tapi ternyata itu semua belum cukup. Kita berkata sudah, sementara Allah berkata belum. Allah ingin kita melakukan lebih dari biasanya. Allah hendak menjadikan kita hamba yang luar biasa.

Sekarang, mari periksa diri kita masing-masing. Apakah niat kita lurus? Apakah senyum dan pertolongan kita kepada sesama sudah tulus? Masihkah ada riya dan dengki dalam hati yang membuat amalan-amalan kita menjadi hangus? Bisa jadi ada kerikil-kerikil yang menghambat berputarnya gerigi usaha kita. Sehingga tampak sudah berotasi dengan sempurna padahal itu belumlah apa-apa.

Penyesalan memang tiba di akhir. Namun kesempatan untuk memperbaiki belum berakhir. Selama masih ada Allah, tiada perlu kita khawatir.

***

Hari ini saya belajar untuk tidak hanya serius dalam meminta. Namun juga belajar untuk tulus dalam menerima dengan lapang dada. Apapun hasilnya.

____
Keterangan:
KRS: Kartu Rencana Studi
Penkom: Penerapan Komputer
Metstat: Metode Statistika
DTPSI: Dasar Teknik Pengendalian Sistem Industri
IP: Indeks Prestasi

Comments

Popular posts from this blog

Penilaian-Nya Lebih Utama

Sejatinya, kita tidak memerlukan anggapan dan persepsi orang lain. Bagaimana orang lain memandang dan menilai diri kita bukan merupakan hal yang penting.
Sebaik apapun anggapan manusia tak akan menambah kemuliaan diri kita. Begitu pula sebaliknya, betapa pun buruk persepsi orang lain terhadap kita tidak lantas membuat kita hina.
Karena kemuliaan sama sekali bukan terletak pada apa yang tampak dan dilihat sesama. Hanya iman dan takwa yang meninggikan derajat manusia.

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali-Imran: 139)

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS. Al Hujurat: 13)


Penilaian yang utama adalah penilaian dari Allah semata. Pujian, tepuk tangan, dan penghargaan manusia menjadi tidak berarti apa-…

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa …

Kontribusi untuk Bangsa dan Negara (Kini dan Nanti)

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
Siapa yang tidak tahu kutipan singkat masyhur di atas? Kalimat yang dilisankan oleh Presiden Soekarno tersebut rasanya tepat menggambarkan betapa kaum muda memiliki peran yang dahsyat dalam melakukan perubahan bagi negara dan dunia. Kita mengenal sosok-sosok muda yang mencuri perhatian dunia seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Anthony Tan. Di dalam negeri sebagian dari kita mungkin sering melihat atau mendengar nama Achmad Zaky, Iman Usman, dan M. Alfatih Timur di linimasa media sosial. Apa persamaan mereka?

Ternyata mereka yang disebutkan di atas memiliki kesamaan: berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Begitulah secara sederhana makna kontribusi yang saya pahami.

Potensi Pemuda Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2016 jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62 juta jiwa. Ini berarti 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan kaum m…