Skip to main content

Pulang



Sedekat apapun jaraknya, momen kepulangan selalu menjadi hal yang ditunggu.
Sesering apapun pulangnya, perjalanan menuju kampung halaman akan senantiasa dirindu.

Bukan. Bukan karena kepenatan di tanah rantau. Bukan pula karena kenyamanan tinggal di kampung halaman. Atau pun keindahan lingkungan sekitar tempat tinggal yang menjadi sebab.

Perjalanan pulang terasa berharga karena kita tahu kemana kita hendak menuju. Kepulangan begitu berkesan karena kita tahu dengan siapa kita akan bertemu. Adalah keluarga.

Segala urusan pekerjaan, perkuliahan, organisasi, dan lain-lain kita selesaikan segera demi kembali bersamanya. Perbekalan dan oleh-oleh dari tanah rantau kita siapkan sedemikian rupa sebab ingin bersama mereka. Keluarga alasannya.

Kemudian, saya bertanya. Sebenarnya apakah kepulangan kita benar-benar dinanti? Apakah kita benar-benar diharap kedatangannya? Adakah kehadiran kita membahagiakan dan memberi manfaat? Ataukah kita justru hanya menjadi pelengkap jumlah anggota?

---

Pulang bagi setiap manusia pada hakikatnya adalah sama. Saya, anda, kita, dia, mereka, dan seluruh manusia yang bernyawa akan pulang ke tempat yang serupa.

Kita (seharusnya) tahu kemana kita hendak menuju. Pun (seharusnya) tahu siapa dengan siapa kita akan bertemu. Kampung akhiratlah yang menjadi tempat akhir berlabuh. Allah yang kita tuju.

Namun, kita tidak akan pernah tahu kapan berpulang. Dan tak punya kuasa untuk menentukan dan menolaknya. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan perbekalan terbaik dan mempersiapkan diri dalam kondisi terbaik pula.

Kemudian pertanyaannya tak jauh beda. Sesungguhnya apakah kepulangan kita dinanti oleh Sang Pencipta? Atau sebaliknya, adakah kita menyenangi dan mengharap perjumpaan dengan-Nya?

“Barangsiapa senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga senang untuk bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang untuk bertemu dengan Allah, niscaya Allah juga tidak senang untuk bertemu dengannya. Kematian itu datang sebelum (seseorang) bertemu Allah.” (HR. Muslim)
Bergembiralah menanti kepulangan. Persiapkan bekal semaksimal mungkin. Nikmatilah perjalanan pulang. Semoga selamat sampai tujuan.

Ila liqo. Fi amanillah.

Comments

Popular posts from this blog

Kontribusi untuk Bangsa dan Negara (Kini dan Nanti)

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
Siapa yang tidak tahu kutipan singkat masyhur di atas? Kalimat yang dilisankan oleh Presiden Soekarno tersebut rasanya tepat menggambarkan betapa kaum muda memiliki peran yang dahsyat dalam melakukan perubahan bagi negara dan dunia. Kita mengenal sosok-sosok muda yang mencuri perhatian dunia seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Anthony Tan. Di dalam negeri sebagian dari kita mungkin sering melihat atau mendengar nama Achmad Zaky, Iman Usman, dan M. Alfatih Timur di linimasa media sosial. Apa persamaan mereka?

Ternyata mereka yang disebutkan di atas memiliki kesamaan: berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Begitulah secara sederhana makna kontribusi yang saya pahami.

Potensi Pemuda Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2016 jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62 juta jiwa. Ini berarti 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan kaum m…

Yang Tak Tersorot

Kekaguman kita kerapkali tertuju pada mereka yang tampil di atas panggung. Mereka yang menawan di bawah sorotan lampu dengan segala kelebihan yang tampak. Elok parasnya, ramah tuturnya, merdu nyanyiannya, kuat pengaruhnya. Seakan-akan semesta memang tercipta untuknya.

Padahal jauh lebih banyak lagi orang-orang yang tak tersorot atau mungkin memang enggan disorot. Yang ikhlas bekerja untuk keluarganya. Yang selalu ada menjadi tempat cerita. Yang terus mendukung tanpa sedikitpun menghitung. Yang menuntaskan amanah meski amat lelah. Yang sibuk memberi dan berbagi tanpa pamrih, tanpa publikasi.

Orang-orang seperti itu tidak sedikit jumlahnya. Barangkali ada di sekitar kita. Kita saja yang sering melewatkannya. Atau terlambat menyadarinya.

Orang-orang seperti itu bukannya tidak peduli terhadap pribadi. Justru mereka sudah selesai dengan urusannya sendiri. Merasa cukup dengan nikmat yang Dia beri. Seraya menyerahkan hidup-mati pada Yang Maha Menguasai.

Orang-orang seperti itu tidak silau pa…

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa …