Skip to main content

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa tertinggal. Hadirnya kita menjadi penggembira sesaat. Atau mungkin tidak berdampak apa-apa.

Betapa kita kerap kali hadir tapi tidak menghadirkan yang lain. Hadir dalam kelas tapi tidak menghadirkan diri kita untuk menyerap ilmu. Ikut rapat tapi tidak menghadirkan diri kita dalam upaya penyelesaian masalah. Berada di rumah tapi tidak menghadirkan diri kita sebagai anggota keluarga yang selalu dinanti ceritanya. Beribadah tapi tidak menghadirkan diri kita sebagai hamba yang tiada berdaya dan membutuhkan pertolongan-Nya. Hidup tapi menihilkan Allah yang memberi kehidupan.

Padahal sejatinya setiap elemen kehidupan dibangun dengan utuh, penuh, dan menyeluruh. Yang kita perlukan hanyalah melakukan segala sesuatu dengan fokus. Mencurahkan cukup sumber daya sesuai tempatnya, tepat pada waktunya.

Mari tidak setengah-setengah. Karena setengah sama dengan musnah.

Comments

Popular posts from this blog

Penilaian-Nya Lebih Utama

Sejatinya, kita tidak memerlukan anggapan dan persepsi orang lain. Bagaimana orang lain memandang dan menilai diri kita bukan merupakan hal yang penting.
Sebaik apapun anggapan manusia tak akan menambah kemuliaan diri kita. Begitu pula sebaliknya, betapa pun buruk persepsi orang lain terhadap kita tidak lantas membuat kita hina.
Karena kemuliaan sama sekali bukan terletak pada apa yang tampak dan dilihat sesama. Hanya iman dan takwa yang meninggikan derajat manusia.

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali-Imran: 139)

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS. Al Hujurat: 13)


Penilaian yang utama adalah penilaian dari Allah semata. Pujian, tepuk tangan, dan penghargaan manusia menjadi tidak berarti apa-…

Rindu

Ternyata perjumpaan tidak membunuh rindu. Ujungnya hanya terpangkas sedikit. Memecah dominansi apikal. Kemudian tunas lateralnya berkembang; bercabang-cabang. Rindu semakin rimbun.

Perjumpaan memang tidak melenyapkan rindu. Terus tumbuh meski diinjak, dibabat habis berkali-kali, atau didera kemarau panjang. Selama akarnya menghujam erat ke bumi, selama itu pula rindu bersemi. Rindu bertambah subur.

Perjumpaan benar-benar bukan obat rindu. Barangkali meredam nyeri, meredakan jerih, atau meredah perih. Namun perlahan justru menjadi pemicu; menjadi candu. Rindu kian mewabah.

Lantas, apa makna dalam sebuah temu?
Ujian rindu atau nikmat yang semu?

Apapun itu, selayaknya kita bersabar dan bersyukur setiap waktu. Sebab tanpa temu kita masih diizinkan terhubung dalam doa penuh haru, pada malam-malam syahdu.