Skip to main content

Selepas Ramadan

Malam-malam kita tak lagi syahdu. Tak seperti malam lalu ketika kita menikmati lantunan ayat suci dalam tahajud dan tarawih. Larut dalam takarub dan munajat kepada ilahi.

Magrib kita tak lagi ditunggu. Tak seperti magrib-magrib yang lalu tatkala kita menanti kumandang merdu. Berzikir dan berdoa sampai tiba waktu berbuka.

Lidah kita tak lagi fasih, justru kebas dan kelu. Tak seperti kemarin ketika kita membaca firman-Nya tiada letih. Menghafal setiap ayat dengan gigih. Beradu khatam berulang kali.

Masjid dan surau kita tak lagi penuh. Tak seperti hari yang telah lalu saat tiba shalat lima waktu. Atau ketika kita berkumpul dalam kajian agama dan majelis-majelis ilmu.

Lantas, bagaimana kita hari ini? Adakah yang tersisa dalam diri kita selepas bulan keberkahan itu? Kebaikan apa yang membekas selepas Ramadan? Apakah amal-amal saleh kita lenyap seiring berganti bulan?

Bukankah azan yang bulan kemarin kita dengar adalah seruan yang sama hari ini?
Bukankah masjid yang bulan kemarin kita datangi masih menjadi tempat ibadah agama kita hari ini?
Bukankah Alquran yang bulan kemarin kita baca masih menjadi kitab yang kita percayai hari ini?
Bukankah Allah yang bulan kemarin kita sembah dan yakini adalah Tuhan yang sama yang kita imani hari ini?

Padahal tiada seorang pun yang berani memastikan bahwa seluruh amal ibadah dan kebaikan kita di bulan lalu diterima Allah. Jangan-jangan kita merugi. Atau malah celaka. Sebab dosa-dosa kita ternyata belum diampuni.

Para sahabat nabi mengajarkan agar menjaga dan merawat Ramadan dalam hati kita dengan rasa khauf dan raja'; khawatir dan terus berharap. Kemudian berupaya istiqamah dalam amal-amal saleh sehingga mewujud menjadi kebiasaan dan akhlak yang mulia.

Kun rabbaniyyan, wa la takun ramadhaniyyan.

Semoga kita menjadi insan rabbani, yang konsisten beribadah di setiap waktu. Bukan insan ramadani, yang kuat beribadah hanya kala Ramadan tiba.

Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Comments

Popular posts from this blog

Penilaian-Nya Lebih Utama

Sejatinya, kita tidak memerlukan anggapan dan persepsi orang lain. Bagaimana orang lain memandang dan menilai diri kita bukan merupakan hal yang penting.
Sebaik apapun anggapan manusia tak akan menambah kemuliaan diri kita. Begitu pula sebaliknya, betapa pun buruk persepsi orang lain terhadap kita tidak lantas membuat kita hina.
Karena kemuliaan sama sekali bukan terletak pada apa yang tampak dan dilihat sesama. Hanya iman dan takwa yang meninggikan derajat manusia.

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
(QS. Ali-Imran: 139)

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
(QS. Al Hujurat: 13)


Penilaian yang utama adalah penilaian dari Allah semata. Pujian, tepuk tangan, dan penghargaan manusia menjadi tidak berarti apa-…

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa …

Rindu

Ternyata perjumpaan tidak membunuh rindu. Ujungnya hanya terpangkas sedikit. Memecah dominansi apikal. Kemudian tunas lateralnya berkembang; bercabang-cabang. Rindu semakin rimbun.

Perjumpaan memang tidak melenyapkan rindu. Terus tumbuh meski diinjak, dibabat habis berkali-kali, atau didera kemarau panjang. Selama akarnya menghujam erat ke bumi, selama itu pula rindu bersemi. Rindu bertambah subur.

Perjumpaan benar-benar bukan obat rindu. Barangkali meredam nyeri, meredakan jerih, atau meredah perih. Namun perlahan justru menjadi pemicu; menjadi candu. Rindu kian mewabah.

Lantas, apa makna dalam sebuah temu?
Ujian rindu atau nikmat yang semu?

Apapun itu, selayaknya kita bersabar dan bersyukur setiap waktu. Sebab tanpa temu kita masih diizinkan terhubung dalam doa penuh haru, pada malam-malam syahdu.