Skip to main content

Melewatkanmu

Bagaimana jika ternyata puasa kita sia-sia?
Tidak mendapat apa pun kecuali lapar dan dahaga. Sebab kebiasaan kita adalah berucap dusta dan berlaku tiada guna.

Bagaimana jika ayat-ayat yang kita baca ternyata tidak berpahala?

Lisan basah namun hati gelisah. Rajin merapal tapi alpa beramal.

Bagaimana jika salat tarawih kita ternyata tidak diterima?

Sekadar euforia sesaat dan ritual musiman saja. Kemudian kita justru sibuk belanja dan terlena jelang hari raya.

Bagaimana jika ternyata infaq dan sedekah kita ternyata membuat celaka?

Memberi karena ujub dan riya'. Bederma hanya supaya dilihat manusia.

Bagaimana jika iftar yang kita hadiri ternyata jadi ladang dosa?

Asyik bergosip ria sampai lalai dengan kewajiban kita. Dekat dengan kerabat dan kolega namun makin jauh dari ridha-Nya.

Bagaimana jika Ramadan ini tidak bernilai apa-apa bagi kita?

Ia sekadar berlalu dan kita melewatkannya begitu saja.

Bagaimana jika kali ini adalah Ramadan terakhir kita?

Sementara tidak ada jaminan kembali berjumpa pada tahun berikutnya.

Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai dari pada dunia dan seisinya. (Fudholah bin 'Ubaid)

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni..
Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku..

Comments

Popular posts from this blog

Kontribusi untuk Bangsa dan Negara (Kini dan Nanti)

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.
Siapa yang tidak tahu kutipan singkat masyhur di atas? Kalimat yang dilisankan oleh Presiden Soekarno tersebut rasanya tepat menggambarkan betapa kaum muda memiliki peran yang dahsyat dalam melakukan perubahan bagi negara dan dunia. Kita mengenal sosok-sosok muda yang mencuri perhatian dunia seperti Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Anthony Tan. Di dalam negeri sebagian dari kita mungkin sering melihat atau mendengar nama Achmad Zaky, Iman Usman, dan M. Alfatih Timur di linimasa media sosial. Apa persamaan mereka?

Ternyata mereka yang disebutkan di atas memiliki kesamaan: berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Begitulah secara sederhana makna kontribusi yang saya pahami.

Potensi Pemuda Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2016 jumlah pemuda Indonesia telah mencapai 62 juta jiwa. Ini berarti 1 dari 4 penduduk Indonesia merupakan kaum m…

Yang Tak Tersorot

Kekaguman kita kerapkali tertuju pada mereka yang tampil di atas panggung. Mereka yang menawan di bawah sorotan lampu dengan segala kelebihan yang tampak. Elok parasnya, ramah tuturnya, merdu nyanyiannya, kuat pengaruhnya. Seakan-akan semesta memang tercipta untuknya.

Padahal jauh lebih banyak lagi orang-orang yang tak tersorot atau mungkin memang enggan disorot. Yang ikhlas bekerja untuk keluarganya. Yang selalu ada menjadi tempat cerita. Yang terus mendukung tanpa sedikitpun menghitung. Yang menuntaskan amanah meski amat lelah. Yang sibuk memberi dan berbagi tanpa pamrih, tanpa publikasi.

Orang-orang seperti itu tidak sedikit jumlahnya. Barangkali ada di sekitar kita. Kita saja yang sering melewatkannya. Atau terlambat menyadarinya.

Orang-orang seperti itu bukannya tidak peduli terhadap pribadi. Justru mereka sudah selesai dengan urusannya sendiri. Merasa cukup dengan nikmat yang Dia beri. Seraya menyerahkan hidup-mati pada Yang Maha Menguasai.

Orang-orang seperti itu tidak silau pa…

Hadir dan Menghadirkan

Ada kalanya kita menghadiri sesuatu tapi kita tidak menghadirkan sesuatu yang lain.

Kita memasuki kelas, mengikuti kuliah. Tapi kita sibuk mengerjakan tugas yang lain. Atau bahkan terlelap. Kita hanya mencukupi kolom daftar hadir.

Kita ikut dalam rapat. Tapi kita hanya menonton pembicaraan. Diam, tidak ikut berdiskusi. Atau malah bermain ponsel. Kita cuma memenuhi kuorum dan menyetorkan muka sebagai bukti bahwa kita ada.

Kita pulang ke rumah. Melepas rindu dengan sanak famili. Tapi kita kemudian justru asyik beraktivitas sendiri. Kita meniadakan keberadaan diri bagi keluarga.

Kita menunaikan ibadah dan berdoa. Tapi pikiran kita mengembara entah kemana. Setelahnya pun sama. Kita sekadar menggugurkan kewajiban sebagai entitas insan beragama.

Kita merasakan nikmatnya hidup di dunia. Tapi lupa menginsafi eksistensi Sang Pencipta.

Banyak hal lain yang kita berada di dalamnya namun pada hakikatnya tidak demikian. Jasad melakukan kegiatan namun ruh tidak menyertai. Raga bergerak tetapi jiwa …